| Profile |
|
|
|
![]() Pesantren Pabelan, Muntilan Jawa Tengah Tujuh tahun lebih Bahtiar mengenyam pendidikan di pesantren yang diasuh oleh almarhum KH Hamam Dja’far, alumni Pondok Gontor. Di sini Bahtiar belajar ilmu agama dan ilmu umum, termasuk bahasa Arab dan Inggris. Sesekali Bahtiar mempraktikkan bahasa Inggris dengan tamu-tamu asing yang datang ke pesantren, dan turis-turis yang berkunjung ke Borobudur. ![]() Montana, Amerika Serikat Sekembalinya dari Amerika Serikat, Bahtiar mengajar di Pesantren Pabelan selama satu tahun (1977-1978). Tahun 1979, ia melanjutkan ke Fakultas Ushuluddin IAIN Jakarta. Di Ciputat, Bahtiar aktif di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Cabang Ciputat. Pada 1981, ia mengikuti program Ship for Southeast Asian Youth and Japan. Bersama dua ratusan pemuda dari Asia Tenggara dan Jepang, selama dua bulan, ia keliling Asia Tenggara dan Jepang berdialog dengan masyarakat dan pimpinan pemerintahan. Pada tahun 1982, Bahtiar menamatkan studi Sarjana Mudanya di Fakultas Ushuluddin, IAIN Jakarta. Ia menulis risalah dalam bahasa Inggris dengan judul “Martin Luther.” Pada masa-masa inilah Bahtiar belajar menulis di media massa dengan mentor seniornya Fachry Ali. Sambil merampungkan pendidikan di IAIN Jakarta, ia bekerja pada Dewan Masjid Asia dan Lautan Teduh di bawah pimpinan almarhum Anton Timur Djaelani, mantan Direktur Jenderal Bimbingan dan Kelembagaan Islam, Departemen Agama. Inilah tahun-tahun yang member kesempatan luas bagi Bahtiar untuk berkunjung ke mancanegara: Islamic Unity Week di Colombo, Sri Lanka (dengan Fachry Ali, Hadimulyo, almarhum Iqbal Saimima, Haedar Bagir, dan Jalaluddin Rakhmat), training jurnalistik di City University, London; World Conference on Religion and Peace di Nairobi, Kenya (dengan almarhum Lukman Harun, Anton Timur Djaelani, Rusydi Hamka, Din Syamsuddin); fellow pada East West Center (dengan Derek Manangka), dan lain sebagainya. ![]() Ohio University Atas anjuran dan bantuan Prof. William Liddle, pada 1998 ia belajar Ilmu Politik di Ohio State University, Columbus, Ohio. Pendidikan di OSU dimungkinkan atas beasiswa dari MUCIA dan the Asia Foundation. Program doktor diselesaikannya pada Desember 1994, dengan disertasi berjudul “Islam and the State: The Transformation of Islamic Political Ideas and Practices in Indonesia.” Disertasi ini sudah diterbitkan oleh Paramadina (edisi Indonesia, 1998) dan Institut of Southeast Asian Studies, SIngapura (edisi Inggris, 2003). ![]() LSPEU Indonesia: 2003 Bahtiar pernah pula bergabung dengan Center for Policy and Development Studies (CPDS); menjadi sekretaris Menteri Agama Dr. Tarmizi Taher selama 10 hari; dan Deputi Direktur pada Lembaga Studi dan Pengembangan Etika Usaha. Bersama Duta Besar Salim Said, Bahtiar pernah pula menjadi co-host dalam Mimbar Indonesia, acara mingguan TVRI). Juga menjadi nara sumber di barbagai acara talk host televisi dan radio. Terakhir ia menjadi senior fellow pada Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological Universities (NTU), Singapura. Suami dari Fardiah, dan ayah dari Siti Nurul Hapsari, Arina Hayati, dan Atia Adjani ini memperoleh gelar guru besar di bidang Ilmu Politik pada UIN Jakarta pada Januari 1996. |






